Buwas Akan Bongkar Permainan Beras BPNT

DIREKTUR Utama Perum Bulog, Budi Waseso atau akrab disapa Buwas gelar konferensi pers untuk membongkar kejahatan terkait penyaluran program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). BPNT dahulu bernama beras sejahtera (rastra), sebelumnya bernama beras miskin (raskin). Banruan tersebut distribusinya sebagian dilakukan oleh Perum Bulog, dan distributor swasta.

Hal membuat Buwas marah terkait dugaan penyimpangan BPNT, ialah terkait pemalsuan merek beras. Di karung beras terlihat merek premium, namun distributor menjual kualitas medium. Selain itu, dalam temuan timnya, ada sekitar 300 e-Warung ‘siluman’.

“Tambal ban bisa jadi e-Warung. Tambal ban, dia bisa menyalurkan BPNT. Ada kios-kios tidak jelas, siluman, yang buka hanya saat BPNT. Setelah itu tidak ada lagi. Ini ada mafia, supplier-nya mereka yang tahu. Ada kerja sama dengan supplier e-Warung, nanti kita buktikan, termasuk oknum dari Himbara (Himpunan Bank Milik Negara),” kata Buwas, baru-baru ini.

JENIS beras dibagikan pada penerima BPNT di Kabupaten Parigi Moutong, bukan beras berasal dari bulog. Beras-beras ini merupakan beras berasal dari hasil pembelian dilakukan oleh E-warung ditunjuk bersama Dinsos Parimo dan Himbara. (foto: koran indifo)

Bulog sejatinya diberikan jatah untuk menjadi penyedia beras BPNT 2019 sebanyak 100 persen oleh Kementerian Sosial (Kemensos) selaku penyelenggara BPTN, dari sebelumnya sebanyak 30 persen. Namun hal itu tidak sepenuhnya terealisasi, sampai saat ini Bulog masih juga berhadapan dengan distributor beras dari pemasok lainnya.

Terkait realisasi beras untuk BPNT, Buwas mengaku bahwa Bulog baru menyalurkan sekitar 30 ribu ton beras dari penugasan 700 ribu ton untuk program BPNT 2019.

“Kasihan penerima, ini umpannya beras 5 kilogram, coba timbang, sampai 5 kilogram tidak. Tapi ini diterimakan seolah-olah 5 kilogram. Ini beras atau premium? Medium, tapi seolah-olah premium,” kata Buwas, seperti dikutip dari katadata.

Buwas juga mengatakan bahwa ada oknum baru berasal dari luar Bulog dalam mafia penyaluran BPNT. Menurutnya, oknum tersebut tengah ditangani oleh pihak kepolisian.

Buwas juga memaparkan ada oknum penyalur beras mendapatkan keuntungan Rp9 miliar per bulan dengan memalsukan beras BPNT.  Secara total, keuntungan bagi oknum penyalur mencapai Rp 5 triliun.

Menurutnya, kasus tersebut telah terjadi selama bertahun-tahun. Praktik penipuan ini terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Modusnya, oknum membeli karung beras Bulog secara online dengan harga Rp 1000 per buah. Kemudian, karung diisi dengan beras medium dengan harga Rp 7500 per kilogram dan dilabeli beras premium. Selain itu, kuantitas beras juga dipalsukan dari 10 kilogram menjadi 7 kilogram.

Tidak hanya itu, Keluarga Penerima Manfaat (KPM) juga dipaksa untuk membeli beras-beras tersebut. Peneriman BPNT diarahkan dalam menerima bantuan itu.

“Saudara kita dipaksa untuk menerima beras jelek. Saya akan kerjasama dengan kekuatan pemerintah termasuk penelusuran dana ini akan kita buktikan. Termasuk bukti yang sekarang dibawa, ini karung-karung beras cap Bulog dan Cap Pandan Wangi karung ini banyak dijual online,” tegasnya.

Bila tidak membeli beras sesuai arahan, KPM akan diancam tidak memperoleh fasilitas BPNT lagi. Padahal KPM mendapat BPNT sebesar Rp 110 ribu untuk dibelanjakan beras hingga telur sesuai pilihannya.

Namun karena ada paket produk, maka mereka tak bisa memilih beras dari jatah BPNT.  Penyalur tersebut juga telah bekerja sama dengan e-warung maupun oknum di himpunan bank negara (Himbara). Buwas mencatat, ada 300 e-warung ‘siluman’ atau 10 persen dari total e-warung terdaftar mencapai 3 ribu titik tersebar di seluruh Indonesia. (katadata)

 

BERITA TERKAIT:

Ditanya Soal BPNT, Pejabat Dinsos Parimo ‘Kebakaran Jenggot’

Penyaluran BPNT Terkesan Amburadul

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Follow by Email
Facebook
Pinterest