Sarat Korupsi, Aparat Desa Bugis Diduga ‘Mainkan’ DD

PARIMO – Kelola Dana Desa (DD) di Desa Bugis, Kecamatan Mepanga, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) terindikasi sarat korupsi. Oknum-oknum aparat Desa Bugis, disinyalir banyak ‘makan’ untung dengan cara ‘mengakali’ beberapa kegiatan senilai ratusan juta dibiayai DD 2018.

Sebuah sumber kompeten menyebut, ada permainan beraroma tengik pada kegiatan pengembangan dan pemeliharaan jamban senilai Rp136 juta lebih di desa dikepalai oleh Hafid itu.

Para oknum desa, kata sumber, disinyalir telah lancang melakukan penggelembungan harga (mark up), serta penyunatan jumlah barang kegiatan terkait jamban yang diperuntukkan bagi 112 warga Desa Bugis tersebut.

“Ada mark up harga dalam kegiatan jamban. Harga-harganya sengaja dinaikan, namun diduga tidak dibelanjakan alias fiktif. Contohnya saja untuk lem pipa harganya sampai Rp15 ribu, engsel tertera Rp15 ribu dan paku tertera Rp28 ribu, namun tidak ada barangnya. Pokoknya tidak dibelanjakan alias fiktif”, beber sumber, kepada Koran Indigo, Minggu, (29/12).

“Untuk bahan pembuatan jamban berupa semen, 112 warga itu perorangnya seharusnya menerima sebanyak 9 zak. Namun, faktanya, per warga hanya menerima 7 zak. Kemana yang 2 zak. Dalam RAB, harga semen tertera Rp80 ribu per zaknya”, bebernya lagi.

Selain diduga berpraktik tengik pada hajatan pengembangan dan pemeliharaan jamban warga, para aparat Desa Bugis juga serakah main curang dalam kegiatan pengadaan pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan kolam ikan senilai puluhan juta.

Kolam ikan yang sejatinya dibuat untuk pemberdayaan desa, kata sumber, justru ‘dikuasai’ oleh para oknum perangkat Desa Bugis.
Dalam RAB, lanjut sumber, tertera item 1 titik pembangunan kolam ikan desa senilai Rp30 juta.

Namun, pada faktanya, para perangkat Desa Bugis ‘mengakali’ apa yang tertulis dalam RAB dan merubahnya menjadi tiga titik pembangunan bak kolam ikan.

Mirisnya, kolam-kolam ikan desa tersebut dibangun di pekarangan masing-masing perangkat Desa Bugis.

“Pekerjaan kolam ikan dipecah menjadi titik, sehingga hanya berbentuk bak-bak ikan saja. Bukan lagi kolam. Bak-bak ikan sengaja dibangun di belakang rumah pak Kepala Desa (Kades), belakang rumah Sekdes dan Bendahara. Jika melihat fisik kolam yang ada saat ini, kuat dugaan ada akal-akalan mengarah pada mark up”, kata sumber secara tertutup, kepada wartawan.

Hafid, selaku Kades Bugis, masih belum dapat dimintai komentarnya terkait aroma tengik kelola DD 2018 tersebut. Hafid dinyatakan sedang tidak berada di tempat, dan tengah melakukan perjalanan ke Kota Palu.

Maljum, selaku Sekretaris Desa (Sekdes), membantah semua isu miring mengarah kepada dirinya dan perangkat Desa Bugis lainnya itu.

Menurut Maljum, minus item barang dan bahan pada kegiatan pembangunaan jamban di Desa Bugis, sebagai dampak bencana gempa dan tsunami pada 2018.

Akibatnya harus terjadi perubahan anggaran, karena adanya kenaikan harga pasca terjadinya bencana.

Sedangkan terkait perubahan kegiatan pembangunan kolam yang melenceng dari RAB, kata Maljum, hal itu telah pihaknya koordinasikan kepada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Parimo.

Dan menurut Maljum, hal itu tersebut telah mendapatkan restu serta izin dari DPMD Parimo.

(Moh Rifai / Indigo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Follow by Email
Facebook
Pinterest