banner 728x250
DAERAH  

Pemprov Sulteng Siap Bantu Benih Untuk Petani Terdampak Banjir Parigi

PARIGI | KORANINDIGO Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah siap membantu benih untuk petani yang terdampak banjir di kecamatan Balinggi dan Torue Kabupaten Parigi Moutong guna memulihkan kondisi pascabencana.

 

banner 970x250

“Dampak bencana dapat mempengaruhi produksi gabah, sehingga kami siap melakukan intervensi, karena dua kecamatan tersebut merupakan sentra penghasil beras,” kata Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Nelson Metubun di Palu, Kamis, (06\15)

 

Ia menjelaskan, intervensi dilakukan pihaknya dari sisi pertanaman, sehingga untuk normalisasi areal persawahan dari material lumpur dan potongan kayu terseret banjir, ditangani instansi teknis lainnya.

 

Oleh karena itu, pihaknya saat ini sedang berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten setempat untuk memastikan jumlah sawah terdampak banjir.

 

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong, luas kebun dan sawah yang terdampak bencana sekitar 386 hektare di Balinggi dan Torue.

 

“Hitungan teknisnya, 1 hektare sawah butuh 25 kilogram benih, saat ini kami berkoordinasi dengan instansi teknis setempat menghitung jumlah sawah terdampak supaya intervensi dilakukan tepat jumlah,” ujar Nelson yang juga mantan Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Parigi Moutong.

 

Ia memaparkan, pemulihan pascabencana hidrometeorologi di kabupaten itu bagian dari tanggung jawab pihaknya khususnya pada sektor pertanian, karena Parigi Moutong merupakan salah satu daerah sentra pangan dengan luas lahan kurang lebih 32.600 hektare atau 23,27 persen dari total luas lahan di provinsi tersebut 140.100 hektare.

 

Kabupaten tersebut juga digencarkan program indeks pertanaman 400 (IP400) dengan luas lahan 5.500 hektare, dan Kecamatan Balinggi menjadi lokus program IP400.

 

“Posisi Parigi Moutong dan sejumlah daerah lainnya sebagai sentra pangan sangat strategis,” ucapnya.

 

Pemkab Parigi Moutong, menambah masa tanggap darurat 14 hari ke depan setelah masa tanggap darurat sebelumnya dimulai 30 Mei-12 Juni telah berakhir.

 

Perpanjangan tanggap darurat difokuskan kegiatan normalisasi sungai, perbaikan tanggul irigasi, termasuk fasilitas umum dan lahan pertanian yang terdampak.

 

“Petani harus diintervensi dengan bantuan, supaya mereka cepat bangkit dan semangat menggarap lahan,” demikian Nelson. (Ind*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *