LAPORAN KHUSUS

Ituwu, Cara Memasak di Bambu Dalam Tradisi Kuliner di Poso

299
×

Ituwu, Cara Memasak di Bambu Dalam Tradisi Kuliner di Poso

Sebarkan artikel ini

KoranIndigo – Tinggal di wilayah hutan dan bukit untuk berkebun dan berladang, leluhur Poso menciptakan cara masak dan kuliner yang khas dari bahan-bahan alami. Belum ada periuk, apalagi belanga sebagai wadah memasak. Bambu, menjadi pilihan utama wadah memasak yang kemudian diwariskan turun temurun pada generasi Poso hingga saat ini. Cara memasak di bambu ini kemudian dikenal dengan nama ituwu. Ituwu berasal dari bahasa Pamona, salah satu suku Poso yang artinya masak dibambu. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu talang.

Setiap makanan yang dimasak di bambu disebut ituwu. Ada ituwu sayur , ituwu daging. Cara memasak ituwu ini sangat mudah. Bahan makanan yang telah dibersihkan, dicampur dengan berbagai rempah, lalu dimasukkan ke dalam bambu, untuk kemudian dibakar. Untuk membakar ituwu, menggunakan tiang dan kayu yang dibuat melintang sebagai tempat bambu bersandar. Tiang dan kayu ini disebut “Yanga”.

Memasak Ituwu membutuhkan keterampilan khusus dalam mengelola api. Api harus dijaga sedemikian agar tidak berlebihan supaya bambu tidak sampai terbakar, sambil tetap memastikan bahan masakan di dalam bambu tetap matang. Membakar dengan menggunakan sabut kelapa dianggap terbaik karena api yang dihasilkan lebih rata.

Rasa masakan ketika memasak ituwu dianggap lebih gurih dan sedap dibandingkan memasak menggunakan wadah belanga seperti saat ini.  Beberapa orangtua berpendapat, memasak ituwu lebih sehat dan enak .

“ane pangkoni anu ndaituwu, mawongi pai maboko, pai lese wo’u ri koro, maka bendapoapu pai lana “ yang artinya makanan yang dimasak di bambu lebih harum, enak dan gurih, juga lebih sehat, karena tanpa minyak goreng. Demikian cerita Ngkai Bandola, salah satu orang tua Poso.

Rasa enak yang dihasilkan dari ituwu bukan hanya karena cara memasaknya di bambu tapi juga penggunaan rempah. Saat memasak ituwu, terdapat dua rempah utama yang digunakan yaitu daun Arogo dan daun Onco (jenis daun kedondong hutan). Kedua macam daun ini merupakan rempah khas orang Poso, yang memberi rasa gurih dan asam yang seimbang serta memberi afek melembutkan bahan utama makanan misalnya daging.

Bumbu lain  yang ditambahkan sebagai pelengkap dalam memasak ituwu adalah bawang merah (Dalam bahasa Pamona disebut Pia Mawaa), sereh (Dalam bahasa Pamona disebut Tiwombane), jahe (Sering disebut juga Goraka), dan cabai rawit utuh (Dalam bahasa Pamona disebut lada masiwu keogu) dan garam.Tradisi memasak ituwu saat ini masih tetap dipertahankan warga Poso . Memasak ituwu sering dilakukan untuk acara-acara khusus misalnya hari raya panen, atau pesta pernikahan .

Example 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAPORAN KHUSUS

PADA layar sistem pengadaan pemerintah, sebuah tender tampak seperti urusan angka. Pagu diumumkan, perusahaan mendaftar, penawaran masuk, lalu pemenang ditetapkan. Tetapi ketika nama perusahaan dan nilai kontrak dibaca berulang dari satu paket ke paket lain,…

LAPORAN KHUSUS

“Yang jelas pemenang tendernya orang dari luar. Saya kurang tahu. Maksudnya, secara pribadi saya tidak tahu, kecuali berkaitan dengan hasil pemenang tender” KEPALA Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Parigi Moutong Mohamad Nasir memilih menjelaskan proyek…

LAPORAN KHUSUS

Di layar sistem pengadaan pemerintah, dua tender Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Parigi Moutong pada 2024 tampak seperti proses biasa. Peserta mendaftar, penawaran masuk, lalu sebuah perusahaan ditetapkan sebagai pemenang. Nama perusahaan itu sama CV…

LAPORAN KHUSUS

DI atas kertas, barcode BBM subsidi adalah alat kendali. Setiap kode melekat pada identitas nelayan, kapal, dan kuota tertentu. Ia semestinya menjadi pintu terakhir agar solar bersubsidi hanya mengalir kepada mereka yang berhak. Namun di…

Example 325x325