Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 1000x60
LAPORAN KHUSUS

Ituwu, Cara Memasak di Bambu Dalam Tradisi Kuliner di Poso

277
×

Ituwu, Cara Memasak di Bambu Dalam Tradisi Kuliner di Poso

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KoranIndigo – Tinggal di wilayah hutan dan bukit untuk berkebun dan berladang, leluhur Poso menciptakan cara masak dan kuliner yang khas dari bahan-bahan alami. Belum ada periuk, apalagi belanga sebagai wadah memasak. Bambu, menjadi pilihan utama wadah memasak yang kemudian diwariskan turun temurun pada generasi Poso hingga saat ini. Cara memasak di bambu ini kemudian dikenal dengan nama ituwu. Ituwu berasal dari bahasa Pamona, salah satu suku Poso yang artinya masak dibambu. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu talang.

Setiap makanan yang dimasak di bambu disebut ituwu. Ada ituwu sayur , ituwu daging. Cara memasak ituwu ini sangat mudah. Bahan makanan yang telah dibersihkan, dicampur dengan berbagai rempah, lalu dimasukkan ke dalam bambu, untuk kemudian dibakar. Untuk membakar ituwu, menggunakan tiang dan kayu yang dibuat melintang sebagai tempat bambu bersandar. Tiang dan kayu ini disebut “Yanga”.

Memasak Ituwu membutuhkan keterampilan khusus dalam mengelola api. Api harus dijaga sedemikian agar tidak berlebihan supaya bambu tidak sampai terbakar, sambil tetap memastikan bahan masakan di dalam bambu tetap matang. Membakar dengan menggunakan sabut kelapa dianggap terbaik karena api yang dihasilkan lebih rata.

Rasa masakan ketika memasak ituwu dianggap lebih gurih dan sedap dibandingkan memasak menggunakan wadah belanga seperti saat ini.  Beberapa orangtua berpendapat, memasak ituwu lebih sehat dan enak .

“ane pangkoni anu ndaituwu, mawongi pai maboko, pai lese wo’u ri koro, maka bendapoapu pai lana “ yang artinya makanan yang dimasak di bambu lebih harum, enak dan gurih, juga lebih sehat, karena tanpa minyak goreng. Demikian cerita Ngkai Bandola, salah satu orang tua Poso.

Rasa enak yang dihasilkan dari ituwu bukan hanya karena cara memasaknya di bambu tapi juga penggunaan rempah. Saat memasak ituwu, terdapat dua rempah utama yang digunakan yaitu daun Arogo dan daun Onco (jenis daun kedondong hutan). Kedua macam daun ini merupakan rempah khas orang Poso, yang memberi rasa gurih dan asam yang seimbang serta memberi afek melembutkan bahan utama makanan misalnya daging.

Bumbu lain  yang ditambahkan sebagai pelengkap dalam memasak ituwu adalah bawang merah (Dalam bahasa Pamona disebut Pia Mawaa), sereh (Dalam bahasa Pamona disebut Tiwombane), jahe (Sering disebut juga Goraka), dan cabai rawit utuh (Dalam bahasa Pamona disebut lada masiwu keogu) dan garam.Tradisi memasak ituwu saat ini masih tetap dipertahankan warga Poso . Memasak ituwu sering dilakukan untuk acara-acara khusus misalnya hari raya panen, atau pesta pernikahan .

Example 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAPORAN KHUSUS

Langit mendung belum benar-benar pergi ketika halaman Gedung Layanan Perpustakaan Daerah Parigi Moutong mulai lengang. Pagar telah berdiri. Lanskap tertata. Area parkir selesai dibangun. Dari luar, tak tampak persoalan berarti. Namun di balik bangunan itu,…

LAPORAN KHUSUS

Surat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mendarat di Parigi Moutong. Isinya meminta laporan rinci perkembangan pembangunan Gedung Perpustakaan sepanjang 31 Desember 2025 hingga 26 Maret 2026. Dari proyek semula tampak sebagai urusan konstruksi, muncul dugaan…

LAPORAN KHUSUS

Kepala UKPBJ Parigi Moutong, Mohamad Alfianto Hamzah, bersama dua anggota Pokja lelang, diperiksa dalam perkara korupsi proyek tiga ruas jalan senilai Rp21 miliar. Namun, ketiganya tak berstatus tersangka. Penyidik menyimpulkan, batas kewenangan Pokja menjadi garis…

LAPORAN KHUSUS

Dua tanda centang membeku di layar telepon. Permintaan konfirmasi terkirim kepada Kepala Unit Kerja Pengadaan Barang dan Jasa (UKPBJ) Parigi Moutong, Mohamad Alfianto Hamzah. Namun, status pesan berhenti tanpa balasan. Hingga laporan ini disusun, Alfianto…

Example 325x325