Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 1000x60
LAPORAN KHUSUS

Ribuan Ternak Babi di Parimo Mati Mendadak

300
×

Ribuan Ternak Babi di Parimo Mati Mendadak

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PEMERINTAH Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menemukan 3.642 kasus ternak babi mati mendadak atau pemotongan paksa dan, hingga saat ini belum diketahui penyebab kematian.

“Belum diketahui penyebab kematiannya, apakah terjangkit flu babi atau virus lainnya. Kami masih melakukan diagnosa Classical Swine Fever (CSF),” kata Plt Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Parigi Moutong Normawati Said di Parigi, Rabu, (24/5).

Ia menjelaskan, data dihimpun pihaknya 3.642 ekor mati atau paksa potong karena sakit, kemudian 281 ekor tertangani atau diobati, sedangkan yang telah divaksin sebanyak 965 ekor.

Saat ini, Dinas Peternakan dan Perkebunan Sulteng telah mengambil sampel darah ternak tersebut untuk dilakukan uji laboratorium.

“Kami masih menunggu hasil uji sampel,” ucapnya.

Dilaporkan, ribuan ternak mati mendadak itu berada di empat kecamatan yakni Kecamatan Torue, Balinggi dan Sausu serta Parigi Selatan.

Dari peristiwa itu, instansi terkait menerbitkan surat edaran yang berisi imbauan, di antaranya tentang larangan kepada pihak perusahaan, pedagang, dan pemilik ternak memperdagangkan ternak babi keluar-masuk wilayah Parimo, baik dalam bentuk hidup maupun dalam bentuk olahan makanan.

Selain itu, pihaknya juga telah mengajukan permohonan bantuan obat-obatan berupa vaksin dan vitamin khusus ternak ke Dinas Peternakan dan Perkebunan Sulteng supaya kasus ini tidak meluas ke wilayah lain.

Ia juga mengimbau peternak segera melaporkan kepada petugas DPKH bila terdapat indikasi kelainan pada ternak supaya dilakukan penanganan cepat sebagai bentuk antisipasi.

“Kami sarankan pemilik ternak selalu membersihkan kandang dengan disinfektan secara berkala dan pemberian pakan yang sehat kepada ternak” ujarnya.

Ia khawatir, fenomena indikasi virus African Swine Fever (ASF) atau flu babi, karena penularan dan daya musnahnya lebih tinggi hampir 100 persen.

“Satu ekor ternak terpapar maka penularannya sangat cepat, dan dalam waktu singkat akan menyebar luas. Kami juga mengimbau, pemilik ternak tidak membuang di sembarang tempat bangkai ternak, sebaiknya dikubur,” demikian Normawati. (Ant/Ind)

Example 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAPORAN KHUSUS

“Kami menilai perubahan nilai denda tidak memiliki dasar kontraktual. Hak penyedia jasa justru terkatung-katung di tengah proyek senilai miliaran rupiah,” ujar kuasa hukum CV Arawan, Osgar Sahim Matompo. PARIGI | KORANINDIGO – Sengketa pembangunan Gedung Layanan Perpustakaan Daerah Kabupaten…

LAPORAN KHUSUS

“Nilai seleweng fulus di DP3AP2KB terlalu kecil.” Pernyataan Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Parigi Moutong saat itu, Irwanto, menjadi penutup pemeriksaan terhadap pengelolaan dana di Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana…

LAPORAN KHUSUS

“Setiap rupiah dari anggaran harus dapat dipertanggungjawabkan.” Peringatan Kepala Perwakilan BPKP Sulawesi Tengah Agus Yulianto itu mengemuka saat realisasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik/Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB) di Sulawesi Tengah baru mencapai 8,32 persen…

LAPORAN KHUSUS

“Saya bahkan pernah ditawari uang supaya menerima kegiatan tambang ini. Tapi saya tolak karena masyarakat tidak setuju dan dampaknya sudah terasa,” kata Kepala Desa Baliara, Fadli Badja. Dari atas, Jembatan Baliara masih berdiri utuh. Namun, ancaman…

Example 325x325