AKSI peretasan besar-besaran membobol lebih dari 6.000 rekening nasabah Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jambi dan menyebabkan dana nasabah sekitar Rp143 miliar raib.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp19 miliar terdeteksi mengalir ke mata uang kripto, sementara sebagian lainnya terlacak ke sejumlah rekening bank lain.
Gubernur Jambi Al Haris mengungkapkan sebagian aliran dana hasil pembobolan sudah mulai teridentifikasi.
“Terdata ada sekitar Rp19 miliar yang masuk ke crypto, kemudian ada juga yang mengalir ke Bank Permata dan Sampoerna,” ujar Al Haris kepada wartawan, Senin (9/3/) malam,seperti dilansir sabangmerauke.com.
Pemerintah Provinsi Jambi telah meminta Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk segera melakukan langkah penelusuran dan penarikan dana yang terdeteksi, guna meminimalkan kerugian nasabah.
Sementara itu, Polda Jambi masih mendalami kasus pembobolan sistem perbankan tersebut. Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jambi, Kombes Pol Taufik Nurmandia, menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Bareskrim Polri untuk mengusut tuntas kasus tersebut.
“Benar, saat ini kami dalam tahap komunikasi dengan Bareskrim Polri,” kata Taufik.
Peretasan yang diduga terjadi pada Minggu (22/2) itu juga membuat layanan mobile banking dan ATM Bank Jambi terblokir selama sekitar 14 hari. Penutupan sementara layanan dilakukan untuk memperkuat sistem keamanan.
Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Jambi, Zulfikar, mengatakan pihak bank tengah memenuhi berbagai instrumen keamanan yang diminta otoritas perbankan.
“Pemenuhan instrumen security yang diminta otoritas masih berjalan. Ini terkait sistem dari sisi vendor,” ujarnya.
Bank Jambi juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem teknologi informasi guna mencegah serangan serupa terulang. Pihak bank menargetkan layanan kembali normal sebelum masa cuti bersama Hari Raya Idul Fitri.
Akibat pemblokiran layanan digital tersebut, ribuan nasabah terpaksa melakukan transaksi secara manual di kantor cabang. Kondisi ini memicu antrean panjang sejak dini hari.
Sejumlah nasabah bahkan datang sejak subuh demi mendapatkan nomor antrean. Seorang pensiunan ASN yang ditemui di Kantor Cabang Pembantu Thehok, Kota Jambi, mengaku harus datang usai sahur.
“Setengah enam habis sahur saya sudah di sini, tapi ternyata sudah ada yang lebih dulu datang. Mereka sudah menunggu sejak jam lima,” ujarnya.
Dari penelusuran sementara, kerugian nasabah perorangan bervariasi, mulai dari Rp17 juta hingga Rp24 juta per rekening akibat pembobolan tersebut. IND










