DAERAH

Pola “Main” Solar Subsidi, Diduga untuk Fulus Atensi

5
×

Pola “Main” Solar Subsidi, Diduga untuk Fulus Atensi

Sebarkan artikel ini

PARIGI | KORANINDIGO – Solar bersubsidi diduga tak seluruhnya berhenti di tangki kendaraan penerima hak. Di sebuah SPBU, sebagian aliran BBM itu disinyalir berubah menjadi komoditas bernilai fulus ratusan juta rupiah per bulan. Jejaknya bermula dari antrean jeriken dan pungutan kecil, lalu mengarah pada dugaan penyisihan puluhan jeriken setiap kali pasokan datang.

Temuan investigasi lapangan mengindikasikan sedikitnya dua pola.

Pertama, dugaan pungutan terhadap pelansir lokal pengguna jeriken.

Kedua, dugaan pengeluaran sebagian Solar dari jalur penyaluran resmi untuk kemudian dipasarkan kembali.

Pada pola pertama, setiap jeriken disebut dikenai pungutan Rp10 ribu.

Dalam satu kali pasokan 16 ton, sekitar sembilan pelansir membawa maksimal delapan jeriken.

Jika seluruhnya dikenai pungutan, terdapat 72 jeriken dalam satu putaran.

“Rp10 ribu satu jeriken,” kata sumber, secara tertutup.

Dari angka itu terkumpul Rp720 ribu fulus setiap pasokan.

Bila pasokan berlangsung lima kali dalam sepekan, pungutan mencapai Rp3,6 juta. Dalam empat pekan, nilainya sekitar Rp14,4 juta.

Angka itu baru berasal dari pungutan.

Jejak fulus lebih besar muncul pada pola kedua.

Dalam setiap pasokan 16 ton, sekitar 40 jeriken disebut disisihkan untuk pos bernama “uang atensi”.

Jika lima kali pasokan berlangsung dalam sepekan, jumlahnya menjadi 200 jeriken.

Dengan kapasitas sekitar 33 liter per jeriken, volume Solar mencapai 6.600 liter dalam sepekan.

Di atas kertas, 33 liter Solar bersubsidi dengan harga Rp6.800 per liter bernilai Rp224.400.

Namun, informasi lapangan menyebut jeriken tersebut masuk ke skema transaksi berbeda.

Modal internal disebut sekitar Rp280 ribu per jeriken.

Harga jual kembali berada pada kisaran Rp470 ribu hingga Rp500 ribu.

Dengan 200 jeriken, omzet kotor mencapai Rp94 juta pada harga Rp470 ribu.

Jika harga mencapai Rp500 ribu, omzet menjadi Rp100 juta per minggu.

Modal pada angka Rp280 ribu per jeriken mencapai Rp56 juta.

Selisihnya menghasilkan margin kotor Rp38 juta hingga Rp44 juta setiap pekan.

“Ini baru selisih harga. Belum dipotong biaya lain,” kata sumber tersebut, Kamis, 24 September 2026.

Dalam empat pekan, margin kotor itu mencapai Rp152 juta hingga Rp176 juta.

Jika digabung dengan dugaan fulus pungutan pelansir sebesar Rp14,4 juta per bulan, potensi nilai ekonomi dari dua pola tersebut mencapai Rp166,4 juta hingga Rp190,4 juta dalam empat pekan.

Sebelumnya, media ini melansir soal oknum aparat petugas pengamanan SPBU 74.943.08 Kampal membantah adanya tuduhan penyisihan 40 jeriken solar subsidi per 16 ton pasokan sebagai “fulus atensi” pihak tertentu.

Ia berdalih solar berkapasitas 33 liter tersebut murni cadangan darurat untuk membantu nelayan atau petani yang tidak kebagian pasokan.

Meski membantah isu pungli, oknum petugas tersebut mengakui dirinya memiliki kuasa besar untuk mengendalikan nozzle dan mengatur sistem barcode hingga puluhan kali gesek.

Namun, ia mengklaim tidak memanfaatkan celah tersebut demi menjaga ketertiban pengantre serta didasari latar belakang sosialnya sebagai pelayan masyarakat dan pengurus gereja. IND

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DAERAH

PALU | KORANINDIGO – Sebanyak 2.189 nomor polisi kendaraan di Sulawesi Tengah (Sulteng) masuk daftar pemblokiran QR Code BBM subsidi hingga September 2026. Angka ini menjadi bagian dari 11.093 nomor polisi di seluruh Sulawesi, setelah…

DAERAH

“Setiap harinya mungkin kadang saya belum sempat makan. Karena mungkin mereka kasihan ke saya, makanya mereka beri saya Rp10 ribu itu. Mungkin isu pungutan muncul karena orang kasihan lihat saya” PARIGI | KORANINDIGO – Dugaan…

DAERAH

PARIGI | KORANINDIGO – Sebanyak 16 ton solar bersubsidi masuk ke SPBU 74.943.08, Kampal, Parigi Moutong, dalam dua kali pengiriman. Dari volume itu, sekitar 4,8 ton atau 30 persen diperkirakan terserap melalui pembelian menggunakan jeriken….

DAERAH

PARIGI | KORANINDIGO — Kendaraan diduga milik pengelola SPBU 74.943.08 Kampal disebut ikut mengantre Solar bersubsidi. Sedikitnya tiga truk, diduga terkait Manajer SPBU Fajar dan Pengawas SPBU Rifai, disebut kerap berada di sekitar SPBU lalu…

Example 325x325