LAPORAN KHUSUS

Pola “Main” Solar Subsidi, Diduga Fulus Atensi

8
×

Pola “Main” Solar Subsidi, Diduga Fulus Atensi

Sebarkan artikel ini

PARIGI | KORANINDIGO – Solar bersubsidi diduga tak seluruhnya berhenti di tangki kendaraan penerima hak. Di sebuah SPBU, sebagian aliran BBM itu disinyalir berubah menjadi komoditas bernilai fulus ratusan juta rupiah per bulan. Jejaknya bermula dari antrean jeriken dan pungutan kecil, lalu mengarah pada dugaan penyisihan puluhan jeriken setiap kali pasokan datang.

Temuan investigasi lapangan mengindikasikan sedikitnya dua pola.

Pertama, dugaan pungutan terhadap pelansir lokal pengguna jeriken.

PILIHAN EDITOR:
Uang Kasihan Dari “Bocor” Solar SPBU Kampal
Ketika Bini Pengawas SPBU Ikut “Main” Solar

Kedua, dugaan pengeluaran sebagian Solar dari jalur penyaluran resmi untuk kemudian dipasarkan kembali.

Pada pola pertama, setiap jeriken disebut dikenai pungutan Rp10 ribu.

Dalam satu kali pasokan 16 ton, sekitar sembilan pelansir membawa maksimal delapan jeriken.

Jika seluruhnya dikenai pungutan, terdapat 72 jeriken dalam satu putaran.

“Rp10 ribu satu jeriken,” kata sumber, secara tertutup.

Dari angka itu terkumpul Rp720 ribu fulus setiap pasokan.

Bila pasokan berlangsung lima kali dalam sepekan, pungutan mencapai Rp3,6 juta. Dalam empat pekan, nilainya sekitar Rp14,4 juta.

Angka itu baru berasal dari pungutan.

Jejak fulus lebih besar muncul pada pola kedua.

Dalam setiap pasokan 16 ton, sekitar 40 jeriken disebut disisihkan untuk pos bernama “uang atensi”.

Jika lima kali pasokan berlangsung dalam sepekan, jumlahnya menjadi 200 jeriken.

Dengan kapasitas sekitar 33 liter per jeriken, volume Solar mencapai 6.600 liter dalam sepekan.

BERITA TERKAIT:
Orang Dalam dan “Mafia” Solar SPBU Kampal
Jalur Gelap Solar Subsidi
Bocor Solar dari SPBU Kampal Lebih 60 Persen
Truk Pengelola SPBU Ikut Antrean Solar?
Bocor Kuota Solar di Jalan Trans Kampal
Membidik Mafia Solar Subsidi

Di atas kertas, 33 liter Solar bersubsidi dengan harga Rp6.800 per liter bernilai Rp224.400.

Namun, informasi lapangan menyebut jeriken tersebut masuk ke skema transaksi berbeda.

Modal internal disebut sekitar Rp280 ribu per jeriken.

Harga jual kembali berada pada kisaran Rp470 ribu hingga Rp500 ribu.

Dengan 200 jeriken, omzet kotor mencapai Rp94 juta pada harga Rp470 ribu.

Jika harga mencapai Rp500 ribu, omzet menjadi Rp100 juta per minggu.

Modal pada angka Rp280 ribu per jeriken mencapai Rp56 juta.

Selisihnya menghasilkan margin kotor Rp38 juta hingga Rp44 juta setiap pekan.

“Ini baru selisih harga. Belum dipotong biaya lain,” kata sumber tersebut, Kamis, 24 September 2026.

Dalam empat pekan, margin kotor itu mencapai Rp152 juta hingga Rp176 juta.

Jika digabung dengan dugaan fulus pungutan pelansir sebesar Rp14,4 juta per bulan, potensi nilai ekonomi dari dua pola tersebut mencapai Rp166,4 juta hingga Rp190,4 juta dalam empat pekan.

Sebelumnya, media ini melansir soal oknum aparat petugas anggota Polri aktif  pengamanan SPBU 74.943.08 Kampal, MLK atau MJM membantah adanya tuduhan penyisihan 40 jeriken solar subsidi per 16 ton pasokan sebagai “fulus atensi” pihak tertentu.

Ia berdalih solar berkapasitas 33 liter tersebut murni cadangan darurat untuk membantu nelayan atau petani yang tidak kebagian pasokan.

Meski membantah isu pungli, oknum petugas tersebut mengakui dirinya memiliki kuasa besar untuk mengendalikan nozzle dan mengatur sistem barcode hingga puluhan kali gesek.

Namun, ia mengklaim tidak memanfaatkan celah tersebut demi menjaga ketertiban pengantre serta didasari latar belakang sosialnya sebagai pelayan masyarakat dan pengurus gereja. IND

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAPORAN KHUSUS

PARIGI – KORANINDIGO – Antrean jeriken solar subsidi di pesisir Parigi Moutong diduga kuat disusupi “orang dalam”. Modusnya sederhana namun destruktif: menerobos antrean, menimbun puluhan liter per pasokan, lalu melemparnya ke pasar gelap. Pengawas SPBU…

LAPORAN KHUSUS

PARIGI | KORANINDIGO – Permainan alokasi solar subsidi di pesisir Sulawesi Tengah mulai terkuak. Badan Pemeriksa Keuangan turun tangan menyisir carut-marut penyaluran bahan bakar bersubsidi di Kabupaten Parigi Moutong. Pemeriksaan mendadak ini mengejutkan pejabat daerah…

LAPORAN KHUSUS

PARIGI | KORANINDIGO – Penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di SPBU 74.943.08 Kampal, Kabupaten Parigi Moutong, kian memprihatinkan. Hasil investigasi mengindikasikan rembesan kuota Solar dan Pertalite ke pasar gelap menembus 60 persen. Dua pengelola,…

LAPORAN KHUSUS

PARIGI MOUTONG | KORANINDIGO – Antrean Solar bersubsidi di SPBU 74.943.08, Jalan Trans Sulawesi, Kampal, Parigi, menyimpan persoalan lebih dalam dari sekadar panjangnya barisan kendaraan. Keterangan sejumlah sumber mengarah pada dugaan kebocoran distribusi melalui pelansir,…

Example 325x325