Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 180x700
Example 468x60
DAERAH

Potensi Lobster, Saatnya Beralih Dari Tangkapan Alam ke Metode Budidaya

495
×

Potensi Lobster, Saatnya Beralih Dari Tangkapan Alam ke Metode Budidaya

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Selama ini aktivitas perikanan lobster di Sulawesi Tengah (Sulteng) masih didominasi penangkapan secara alami. Potensi lobster yang begitu besar, seharusnya perlu dikelola secara berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi.

 

WILAYAH Sulteng memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas lobster bernilai ekonomi tinggi.

Keberadaan wilayah perairan luas serta ekosistem laut relatif terjaga, Sulteng sangat berpeluang menjadi salah satu sentra produksi lobster di Indonesia.

Wilayah perairan Sulteng mencakup kawasan Teluk Tomini, Pesisir Selat Makassar hingga berbagai wilayah pesisir lain, dikenal sebagai habitat alami berbagai jenis lobster tropis.

Kabid Perikanan DPP APINDO Handri.

Beberapa jenis lobster banyak ditemukan di Sulteng antara lain Lobster Mutiara, Lobster Pasir, dan Lobster jenis bambu. Lobster-lobster ini memiliki nilai jual tinggi di pasar domestik maupun internasional.

Daerah-daerah seperti Kabupaten Parigi Moutong, Donggala, Tolitoli, Banggai, hingga Kabupaten Morowali dinilai memiliki potensi besar sebagai wilayah pengembangan lobster.

Selama ini aktivitas perikanan lobster di daerah-daerah tersebut masih didominasi oleh penangkapan secara alami.

Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulteng, Handri mengatakan bahwa potensi lobster yang begitu besar, seharusnya perlu dikelola secara berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi.

Kata Handri, garis pantai yang begitu panjang dengan wilayah perairan luas, sangat potensial bagi pengembangan lobster.

Komoditas lobster, kata Handri, dapat menjadi salah satu sumber ekonomi baru bagi masyarakat nelayan dan daerah.

“Wilayah Sulteng memiliki garis pantai yang panjang serta perairan sangat potensial bagi pengembangan lobster”, kata Handri yang juga merupakan owner Banua Sidat itu.

“Jika dikelola dengan baik, komoditas ini bisa menjadi salah satu sumber ekonomi baru bagi masyarakat nelayan dan daerah,” katanya lagi

Kabid Perikanan DPP APINDO Handri menilai, selama ini sektor perikanan Sulteng, terutama komoditi unggulan masih bergantung pada hasil tangkapan secara alami.

Handri menjelaskan bahwa metode penangkapan alam, berarti bergantung pada musim serta kondisi lingkungan, sehingga hal itu menyebabkan produksi kerap menjadi tidak stabil.

“Selama ini kita masih terlena dengan hasil tangkapan alam. Padahal jika kita mulai serius mengembangkan budidaya perikanan, termasuk lobster, nilai ekonominya justru bisa lebih tinggi dan yang paling penting dapat menjamin kontinuitas pasokan ke pasar,” jelasnya.

“Metode tangkapan secara alami, sangat bergantung pada musim serta kondisi lingkungan. Kondisi tersebut menyebabkan produksi kerap menjadi tidak stabil”, jelas Handri lagi.

Lebih jauh Handri menuturkan bahwa peluang pengembangan budidaya lobster Sulteng sangat terbuka lebar.

Wilayah pesisir Sulteng, kata dia, memiliki kondisi perairan relatif tenang dan cocok untuk pengembangan sistem budidaya seperti keramba jaring apung (KJA), maupun keramba jaring dasar (KJD).

Pengembangan budidaya lobster, kata Handri, juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya lobster di habitat alaminya.

Dengan adanya budidaya, tekanan penangkapan di alam dapat dikurangi sehingga populasi lobster tetap terjaga.

Selain itu, kata Handri, permintaan pasar terhadap lobster terus meningkat, baik dari pasar domestik maupun dari pasar internasional seperti negara-negara di kawasan Asia.

“Jika dikelola secara profesional dan didukung oleh kebijakan yang tepat, lobster bisa menjadi salah satu komoditas unggulan perikanan Sulteng yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus memberikan kontribusi besar bagi perekonomian daerah”, katanya.

Handri berharap dengan potensi sumber daya laut melimpah, serta peluang pasar begitu besar, pengembangan lobster melalui pendekatan budidaya terencana diharapkan dapat menjadi langkah strategis mendorong transformasi sektor perikanan Sulteng ke arah lebih produktif, berkelanjutan, serta bernilai ekonomi tinggi.

Diketahui, kinerja ekspor perikanan Indonesia awal 2026 menunjukkan tren positif, ditandai peningkatan volume sebesar 6,15% (mtm) pada Januari 2026, dengan udang, tuna, tenggiri, dan kerapu sebagai komoditas utama.

Udang menyumbang nilai terbesar (Rp 11,9 Miliar), sementara China dan Jepang menjadi pasar utama.

Produksi perikanan budidaya pun diproyeksikan meningkat, memastikan pasokan dan pertumbuhan ekspor tetap stabil.

Pada Januari 2026, ekspor perikanan menunjukkan pertumbuhan volume sebesar 6,15% (bulan ke bulan) dengan total nilai ekspor mencapai Rp 19,2 miliar (atau sektiar USD 1,14 juta) dari wilayah tertentu seperti Sorong.

Sektor ekspor didominasi oleh empat komoditas utama. Komoditas pertama adalah Udang, sebagai penyumbang terbesar (Rp 11,9 Miliar), kemudian Ikan Tuna (Rp 4,3 Miliar), Ikan Tenggiri (Rp 2,1 Miliar) dan yang keempat adalah komoditi Ikan Kerapu (Rp 818 Juta).

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat daya saing melalui optimalisasi layanan sertifikasi (SIAPMUTU) dan penerapan empat regulasi baru untuk menjaga kinerja ekspor di tahun 2026. IND

Example 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DAERAH

PARIGI | KORANINDIGO – Jabatan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Parigi Moutong (Parimo) bergeser dari Purnama ke Dian Herdiman. Pergeseran itu berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung nomor KEP-IV-347/C/04/2026 per 13 April 2026. Purnama sebelumnya menjabat Kajari…

DAERAH

PARIGI | KORANINDIGO – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) menggelar rapat paripurna dengan agenda penjelasan Bupati atas Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025. Kegiatan ini berlangsung di ruang rapat DPRD…

DAERAH

PARIGI | KORANINDIGO – Suasana rapat paripurna pembahasan LKPJ 2025 DPRD Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) mendadak panas. Politisi asal PKB Chandra Setiawan, Walk Out usai lontarkan kritik keras terhadap pemerintah daerah dan internal DPRD. Rapat…

DAERAH

PARIGI | KORANINDIGO – Anggota DPRD Parigi Moutong (Parimo), Apt Muhammad Basuki soroti pengelolaan pasar tematik berada di eks lokasi Sail Tomini, Desa Pangi, Kecamatan Parigi Utara. Ia mengingatkan agar pemanfaatan pasar tersebut tidak melenceng…

Example 325x325