EKONOMI

Investasi Besar, Modal Lokal Kecil

32
×

Investasi Besar, Modal Lokal Kecil

Sebarkan artikel ini

Investasi Sulawesi Tengah Rp68,70 triliun, tetapi PMDN hanya 5,77 persen

PALU | KORANINDIGO – Investasi di Sulawesi Tengah menembus Rp68,70 triliun sepanjang Januari–Juni 2026. Dalam enam bulan, angka itu sudah mencapai 73,17 persen dari target setahun sebesar Rp93,89 triliun. Namun di balik lonjakan investasi tersebut, struktur penanaman modal memperlihatkan ketergantungan kuat pada modal asing dan industri hilirisasi.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Sulawesi Tengah Moh Rifani Pakamundi mengatakan realisasi investasi semester pertama 2026 meningkat 6,97 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya, sebesar Rp64,22 triliun.

Secara nasional, Sulteng berada di peringkat keempat, menyumbang 6,8 persen dari total investasi Indonesia sebesar Rp1.010,6 triliun.

Posisi itu berada di bawah DKI Jakarta sebesar Rp173,6 triliun, Jawa Barat Rp138,1 triliun, dan Jawa Timur Rp72,7 triliun.

Sulteng mengungguli Banten dengan realisasi Rp66,3 triliun.

Moh Rifani Pakamundi

Komposisi investasinya timpang. Penanaman Modal Asing mencapai Rp64,73 triliun atau 94,23 persen.

Adapun Penanaman Modal Dalam Negeri hanya Rp3,96 triliun atau 5,77 persen.

Angka itu menunjukkan investasi Sulteng masih sangat bertumpu pada modal dari luar negeri.

Pertumbuhan investasi belum berbanding lurus dengan besarnya peran modal domestik dalam menopang perekonomian daerah.

Konsentrasi lebih kentara terlihat pada sektor hilirisasi. Hingga semester pertama 2026, investasi hilirisasi mencapai Rp56,1 triliun.

Nilainya setara 81,66 persen dari seluruh investasi Sulteng.

“Hilirisasi menyumbang 81,66 persen dari seluruh realisasi investasi di Sulteng, atau Rp56,1 triliun dari Rp68,70 triliun,” kata Rifani.

Dengan nilai tersebut, Sulteng menjadi provinsi dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar secara nasional. Kontribusinya mencapai 18,7 persen dari total investasi hilirisasi Indonesia sebesar Rp300,1 triliun.

Dominasi itu sekaligus menjadi kekuatan sekaligus titik rawan struktur ekonomi Sulawesi Tengah.

Ketika investasi terkonsentrasi pada hilirisasi, kinerja perekonomian daerah ikut sensitif terhadap ekspansi industri pengolahan, arus modal asing, harga komoditas, serta permintaan pasar global.

Data pertumbuhan ekonomi memberi gambaran lebih luas.

Ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan II 2026 tumbuh 5,06 persen secara tahunan dan 2,93 persen dibanding triwulan sebelumnya. Secara kumulatif, pertumbuhan semester pertama mencapai 6,64 persen.

Struktur ekonomi Sulawesi Tengah masih bertumpu pada tiga kelompok besar: industri pengolahan; pertanian, kehutanan dan perikanan; serta pertambangan dan penggalian.

Ketiganya menyumbang 73,75 persen struktur ekonomi Sulawesi Tengah.

Sulawesi Tengah memang sedang berada di garis depan agenda hilirisasi nasional.

Tetapi semakin besar ketergantungan Sulawesi Tengah pada sektor itu, semakin penting memastikan pertumbuhan investasi tidak berhenti pada besarnya nilai modal masuk.

Ukuran akhirnya adalah seberapa besar nilai tambah, kesempatan kerja, dan manfaat ekonomi bertahan di daerah. IND

Example 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI

PARIGI | KORANINDIGO –  Harga beras kualitas super I di pasar modern Sulawesi Tengah menjadi tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga harian komoditas tersebut mencapai Rp21.550 per kilogram,…

EKONOMI

Ruang gerak fiskal pemerintah daerah memasuki fase paling sempit dalam beberapa tahun terakhir. Ketika pemerintah pusat memangkas Transfer ke Daerah (TKD) secara signifikan pada 2026, kemampuan daerah menutup kekurangan lewat Pendapatan Asli Daerah (PAD) justru…

EKONOMI

“Seluruh kantor PT BPR Syariah Hasanah Mandiri ditutup untuk umum dan menghentikan segala kegiatan usaha.” Kalimat singkat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu menandai berakhirnya perjalanan satu lagi bank perkreditan rakyat di Indonesia. Penutupan tersebut…

EKONOMI

DAYA saing global Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026 merosot menjadi peringkat 48 dari 70 negara pada 2026. Sebelumnya pada 2024, Indonesia sempat mencapai ranking 27. Penurunan ini terjadi di saat mayoritas daya saing…

Example 325x325