PARIGI | KORANINDIGO – Ratusan sekolah dasar di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) mencoba mendapatkan kucuran dana revitalisasi dari pemerintah pusat.
Cuma ada masalah klasik menghantui berupa sengketa lahan dan dokumen hibah yang lemah menjadi ganjalan utama dalam proses verifikasi.
Kepala Bidang Manajemen Sekolah Dasar Disdikbud Parimo, Ibrahim, mengungkapkan pihaknya telah mengajukan 300 sekolah untuk direnovasi.
Namun, hingga saat ini baru segelintir sekolah yang lolos verifikasi dan menandatangani kontrak kerja.
“Alas hak tanah rata-rata kurang kuat karena hanya berupa surat penyerahan biasa,” kata Ibrahim saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu, 13 Mei 2026.
Ia menyebut banyak lahan sekolah yang dihibahkan oleh orang tua yang sudah wafat, namun kini digugat oleh ahli warisnya.
Ibrahim meminta para kepala sekolah untuk segera memperbaharui dokumen kepemilikan tanah dengan melibatkan seluruh ahli waris yang masih hidup.
Jika ahli waris ada tiga orang, maka ketiganya wajib menandatangani surat pernyataan agar posisi hukum sekolah menjadi kuat.
Persaingan mendapatkan dana ini sangat ketat karena harus berebut kuota dengan daerah lain di seluruh Indonesia. Kecepatan mengunggah dokumen ke aplikasi kementerian menjadi kunci utama kelolosan verivikasi teknis.
Pihaknya memberikan trik kepada kepala sekolah agar menyiapkan dokumen jauh-jauh hari sebelum jendela unggah dibuka.
Saat ini, tercatat baru tiga SMP dan tiga SD yang menunjukkan progres signifikan dalam program revitalisasi ini.
Tiga kepala sekolah SMP bahkan sudah berada di Makassar untuk menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) bersama tim teknis.
Satu sekolah dasar di daerah terpencil juga dilaporkan telah menandatangani kontrak di Jakarta. Sementara itu, sekolah-sekolah lainnya masih bergelut dengan kelengkapan dokumen administratif dan survei harga material bangunan setempat. IND










