PARIGI | KORANINDIGO – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, bergerak cepat mengikis kesenjangan mutu pendidikan antara sekolah perkotaan dan wilayah terpencil. Langkah strategis ini diwujudkan melalui program Sister School, fokus mendorong guru Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk menguasai pembelajaran digital.
Program dimotori oleh bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) ini memberikan pendampingan intensif.
Para guru dilatih menyusun program pembelajaran berbasis teknologi serta mengembangkan konten digital agar proses belajar-mengajar di kelas menjadi lebih interaktif, kreatif, dan adaptif terhadap kebutuhan murid.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dikbud Parigi Moutong, Sunarti Masanang, menegaskan bahwa penguasaan teknologi kini menjadi pilar utama dalam mendongkrak kualitas pembelajaran.
“Penguatan kompetensi digital ini juga menjadi bagian dari upaya kita menyelaraskan peningkatan kualitas guru di daerah dengan arah kebijakan pemerintah pusat melalui Direktorat GTK,” ujar Sunarti, Kamis (15/10/2026).
Menurut Sunarti, tantangan transformasi digital di sekolah tidak melulu soal ketersediaan perangkat keras. Kunci utamanya justru terletak pada kesiapan dan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi tersebut demi menunjang efektivitas belajar.
Karena itu, materi pendampingan sengaja dirancang komprehensif. Guru tidak hanya dikenalkan pada teknologi, tetapi dibimbing langsung hingga mahir menyusun bahan ajar dan memproduksi konten digital secara mandiri.
Tujuannya, agar siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih segar, bervariasi, dan menarik.
Berbagi Praktik Baik lewat Sekolah Percontohan
Lewat skema Sister School, sekolah yang ditunjuk sebagai percontohan akan bertindak sebagai pusat pengembangan sekaligus wadah berbagi praktik pembelajaran (sharing session).
Guru-guru telah mengikuti pendampingan diwajibkan menularkan ilmu dan keterampilan barunya kepada rekan sejawat di sekolah masing-masing.
“Guru yang ikut pendampingan kami harapkan tidak hanya meningkatkan kompetensi pribadi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang menularkan pengetahuan tersebut ke guru-guru lain,” kata Sunarti menekankan.
Pola getok tular (peer learning) ini diyakini mampu memperluas jangkauan manfaat program secara berkelanjutan tanpa terbatas pada peserta formal saja.
Output akhir dari pengembangan konten digital ini ditargetkan mampu memantik minat belajar siswa, sekaligus mendongkrak kemampuan literasi dan numerasi mereka.

Infrastruktur Jadi Kunci Pemerataan
Kendati demikian, Dikbud Parigi Moutong menyadari bahwa letak geografis menantang menuntut dukungan instansi lain.
Keberhasilan program Sister School ini dinilai sangat bergantung pada tiga faktor krusial: kesesuaian materi dengan kebutuhan siswa, konsistensi guru di ruang kelas, dan ketersediaan infrastruktur pendukung seperti gawai dan akses internet yang stabil di wilayah terpencil.
Sunarti optimistis, jika kompetensi digital guru merata dan didukung fasilitas yang memadai, ketimpangan kualitas pendidikan di kabupaten tersebut bisa segera diatasi.
“Upaya ini adalah komitmen kita bersama demi mewujudkan pemerataan kualitas pendidikan di Parigi Moutong. Ke depan, tidak boleh ada lagi anggapan bahwa mutu pembelajaran yang bagus hanya milik sekolah-sekolah tertentu di pusat kota,” tegas Sunarti menutup wawancara.
Sebagai langkah keberlanjutan, Dikbud Parigi Moutong berencana mengukur dampak nyata program Sister School secara berkala.
Evaluasi akan difokuskan pada tiga indikator utama, yakni perkembangan kompetensi guru, intensitas pemanfaatan konten digital di kelas, serta grafik perubahan kemampuan literasi dan numerasi siswa di lapangan. IND







