Hujan hanya turun beberapa jam. Namun, luka ditinggalkannya memperlihatkan persoalan telah mengendap bertahun-tahun di hulu. Air bah memang datang bersama awan, tetapi kerusakan sering kali berawal dari cara manusia memperlakukan sungai.
Minggu sore, 7 Juli 2026, pukul 15.20 WITA, hujan deras mengguyur Kecamatan Parigi Barat. Dalam hitungan menit, Sungai Desa Airpanas berubah menjadi arus berlumpur meluap ke permukiman.
BERITA TERKAIT:
Forum Koperasi Tambang Rakyat Kayuboko Salurkan 500 Kawat Bronjong untuk Airpanas
Material pasir dan sedimentasi memenuhi badan sungai, lalu menerjang rumah-rumah warga.
Banjir itu bukan sekadar bencana hidrometeorologi, melainkan penanda rapuhnya tata kelola kawasan hulu.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong menunjukkan, sedikitnya 19 kepala keluarga atau 77 jiwa terdampak.
Di antara mereka terdapat satu bayi, lima balita, dan empat lanjut usia. Sebuah musala ikut terendam sehingga aktivitas ibadah warga terhenti.

Kepala Pelaksana BPBD Parigi Moutong, Rivai, memastikan tidak ada korban jiwa maupun pengungsian massal. Namun, ancaman banjir susulan masih membayangi warga.
Di tengah situasi itu, Forum Koperasi Pertambangan Rakyat Desa Kayuboko menyerahkan 500 unit kawat bronjong kepada Pemerintah Desa Airpanas.
Bantuan tersebut disebut sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial (CSR), sekaligus mendukung mitigasi bencana, reklamasi lingkungan, dan pengendalian sedimentasi.
Sebanyak 500 unit kawat bronjong itu dipersiapkan memperkuat bantaran sungai kritis sekaligus menahan laju erosi sebelum pekerjaan normalisasi sungai dilaksanakan.
Hasil kaji cepat Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD menyimpulkan kebutuhan paling mendesak ialah normalisasi daerah aliran sungai (DAS) telah dipenuhi sedimentasi, disertai dukungan logistik kebencanaan. IND










