Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
LAPORAN KHUSUS

Tender DKP dan Jejak Pemenang Berulang

48
×

Tender DKP dan Jejak Pemenang Berulang

Sebarkan artikel ini

PADA layar sistem pengadaan pemerintah, sebuah tender tampak seperti urusan angka. Pagu diumumkan, perusahaan mendaftar, penawaran masuk, lalu pemenang ditetapkan. Tetapi ketika nama perusahaan dan nilai kontrak dibaca berulang dari satu paket ke paket lain, angka-angka itu mulai membentuk pola.

Di Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, sejumlah paket pengadaan memperlihatkan pola tersebut.

Ada perusahaan kembali menang di beberapa paket. Ada pula kontrak dengan nilai sangat dekat dengan pagu.

Pada paket lain, nilai kontrak di lokasi berbeda hanya berselisih tipis.

Berita Terkait:
Kata Nasir, Soal Dua Tender di DKP
Dua Tender, Satu Pemenang
Jaring Bocor Dana Perikanan
Urusan Laut, Tanpa Denyut

Temuan ini belum membuktikan adanya pengaturan tender. Namun pola tersebut cukup menjadi alasan untuk menguji satu pertanyaan mendasar: apakah pemenang lahir dari kompetisi terbuka, atau proses persaingan telah mengerucut sebelum tender berakhir?.

Data OpenTender, Indonesia Corruption Watch mencatat Parigi Moutong menggelar 56 tender pada 2023 dengan total nilai sekitar Rp82,58 miliar.

Dataset tersebut menggunakan indikator Potential Fraud Analysis (PFA), instrumen untuk membaca risiko dalam proses pengadaan, bukan bukti terjadinya tindak pidana.

Dua paket DKP menjadi salah satu titik yang menarik diperiksa.

Pada paket Sarana dan Prasarana Budidaya Ikan Air Laut—Paket Kakap (DAK), pagunya Rp800 juta.

CV Unggul Sejahtera ditetapkan sebagai penyedia dengan kontrak Rp792.117.300.

Selisihnya hanya Rp7.882.700, atau sekitar 0,99 persen dari pagu. Paket ini memiliki skor PFA 43.

Pada paket Sarana dan Prasarana Budidaya Ikan Air Payau—Paket Udang (DAK), perusahaan sama (CV Unggul Sejahtera) kembali menjadi pemenang.

Dari pagu Rp360 juta, nilai kontraknya Rp356.655.210. Selisihnya Rp3.344.790 atau sekitar 0,93 persen. Skor PFA paket tersebut tercatat 39.

Dengan kata lain, dua paket itu dimenangkan pada kisaran 99 persen dari pagu.

Angka tersebut bukan dengan sendirinya tanda kecurangan. Penawaran mendekati pagu dapat terjadi secara sah apabila HPS disusun wajar, peserta benar-benar bersaing, dokumen memenuhi ketentuan, serta evaluasi dilakukan secara independen.

Hal membuatnya layak ditelusuri adalah kombinasi beberapa indikator: nilai penawaran yang sangat dekat dengan pagu, kemenangan penyedia yang berulang, serta kemungkinan berulangnya peserta dan pola dokumen tender.

Jejak CV Unggul Sejahtera tidak berhenti pada dua paket itu.

Dalam daftar paket yang ditelusuri, perusahaan tersebut sedikitnya memperoleh tiga paket—Kakap, Udang, dan Lele—dengan total nilai kontrak sekitar Rp1,261 miliar.

Pola pengulangan juga terlihat pada perusahaan lain.

CV Ryzky Utama tercatat memperoleh sedikitnya tiga paket. CV Abbasy Perkasa, CV Yoyo Abadi, CV Champion Group, dan CV Primatama Construction juga muncul lebih dari sekali.

Pengulangan pemenang tentu bukan pelanggaran. Perusahaan memenuhi persyaratan berhak memenangkan tender berkali-kali.

Tetapi dalam pemeriksaan pengadaan, persoalannya bukan sekadar “siapa yang menang”, melainkan “bagaimana kemenangan itu terjadi”.

Angka Berhimpit

Petunjuk lain muncul dari paket pembuatan air bersih.

Sejumlah pekerjaan di lokasi berbeda memiliki nilai kontrak yang sangat berdekatan.

Paket air bersih Buranga tercatat Rp141.998.033,51; Sigenti Rp141.996.285,86; Sausu Tambu Rp141.887.290,91; Olaya Rp141.726.544,58; Sienjo Rp141.890.912,20; dan Bolano Tengah Rp142.050.477,03.

Perbedaan nilainya relatif tipis.

Kesamaan tersebut belum menunjukkan adanya pengaturan. Paket dengan desain, volume, spesifikasi dan kebutuhan teknis identik memang dapat menghasilkan nilai pekerjaan hampir sama.

Namun justru di titik itu dokumen pengadaan menjadi penting.

Pemeriksaan perlu diarahkan pada HPS masing-masing paket, rincian volume, spesifikasi teknis, rancangan pekerjaan, peserta tender, harga penawaran, hingga pola peserta yang berulang.

Jika perusahaan-perusahaan yang sama terus bertemu, sementara sebagian peserta berulang kali kalah, pola tersebut dapat menjadi bahan pengujian lebih lanjut.

Begitu pula dengan aktor pemerintah. Tender tidak berjalan sendiri. Ada pejabat pembuat komitmen, kelompok kerja pemilihan dan unit kerja pengadaan yang menjalankan tahapan berbeda.

Karena itu, pertanyaan investigatif tidak berhenti pada perusahaan pemenang.

Apakah paket-paket dengan penyedia sama ditangani kelompok kerja yang sama, apakah dokumen pemilihannya memiliki pola identik, atau apakah peserta yang sama berulang kali muncul tetapi hampir selalu kalah.

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan apakah deretan angka tersebut sekadar kebetulan administratif atau menunjukkan pola persaingan perlu diperiksa lebih jauh.

Kepala Dinas: “Saya Tidak Hafal”

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Parigi Moutong, Mohamad Nasir, mengaku tidak hafal penyedia memenangkan sejumlah paket di instansinya.

“Saya tidak hafal, Pak,” kata Nasir pada 28 Agustus 2026.

Dalam proyek Pabrik Es Petapa dan paket ICS Boyantongo pada 2024, Nasir juga mengatakan tidak mengenal secara pribadi pengusaha pemenang tender.

“Yang jelas pemenang tendernya orang dari luar. Saya kurang tahu. Maksudnya, secara pribadi saya tidak tahu, kecuali berkaitan dengan hasil pemenang tender,” ujarnya pada Kamis, 27 Agustus 2026, ketika menghadiri wisuda anaknya di Makassar.

Nasir tidak menjelaskan dasar penetapan pemenang pada paket-paket tersebut, termasuk dua paket DAK dengan nilai kontrak lebih dari 99 persen pagu.

Ia juga tidak memberikan penjelasan mengenai apakah pengulangan penyedia merupakan konsekuensi dari kompetisi terbuka atau terdapat kondisi khusus dalam masing-masing proses tender.

Pada akhirnya, angka-angka tersebut baru merupakan “petunjuk”, bukan vonis.

Untuk mengubah petunjuk menjadi kesimpulan lebih kuat, dokumen pemilihan, HPS, daftar peserta, seluruh penawaran, berita acara evaluasi, identitas Pokja, serta dokumen kontrak perlu dibaca secara berlapis.

Sebab, kemungkinan pengarahan tender tidak selalu terlihat pada siapa pemenangnya.

Kadang jejaknya justru tersembunyi pada “siapa saja yang diizinkan bersaing, bagaimana syarat disusun, siapa yang berulang kali kalah, dan seberapa dekat harga akhir dengan angka yang sejak awal tersedia.”

Di sanalah tender yang tampak sederhana di layar mulai memperlihatkan cerita di balik angka. (TIM)

Example 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAPORAN KHUSUS

“Yang jelas pemenang tendernya orang dari luar. Saya kurang tahu. Maksudnya, secara pribadi saya tidak tahu, kecuali berkaitan dengan hasil pemenang tender” KEPALA Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Parigi Moutong Mohamad Nasir memilih menjelaskan proyek…

LAPORAN KHUSUS

Di layar sistem pengadaan pemerintah, dua tender Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Parigi Moutong pada 2024 tampak seperti proses biasa. Peserta mendaftar, penawaran masuk, lalu sebuah perusahaan ditetapkan sebagai pemenang. Nama perusahaan itu sama CV…

LAPORAN KHUSUS

DI atas kertas, barcode BBM subsidi adalah alat kendali. Setiap kode melekat pada identitas nelayan, kapal, dan kuota tertentu. Ia semestinya menjadi pintu terakhir agar solar bersubsidi hanya mengalir kepada mereka yang berhak. Namun di…

LAPORAN KHUSUS

PARIGI | KORANINDIGO – Proyek Gedung Layanan Perpustakaan Daerah Parigi Moutong senilai Rp8,7 miliar memasuki fase pelik. Di satu sisi, penyidik Polda Sulawesi Tengah mendalami dugaan korupsi penggunaan dana DAK. Di sisi lain, sengketa kontrak…

Example 325x325