PARIGI | KORANINDIGO– Seolah Kebal hukum, sedikitnya 15 hingga 20 armada diduga sengaja ditempatkan dalam antrean Solar subsidi di SPBU 74.943.08 Jalan Trans Sulawesi, Kelurahan Kampal, Kabupaten Parigi Moutong. Kendaraan-kendaraan itu keluar-masuk barisan mengisi Solar secara berulang setiap pasokan tiba, menurut keterangan sumber internal. Pola tersebut membuat antrean terus mengular, sementara konsumen lain berisiko kehilangan kesempatan memperoleh solar.
PILIHAN EDITOR:
Solar Mengalir Ke Tambang, Aparat Diduga Lakukan Pembiaran
Skema Distribusi Solar, Berlaku di Seluruh SPBU
DPRD Parimo Bedah Krisis Solar
“Armada itu masuk antrean, mengisi, lalu kembali lagi,” kata sumber internal kepada media ini, beberapa waktu lalu.

Truk bak tinggi, truk bak pendek, dump truck hingga mobil pribadi memenuhi barisan.
Sebagian kendaraan diduga tidak bergerak sebagai armada angkutan logistik biasa, melainkan ditempatkan untuk menyerap Solar subsidi sebanyak mungkin.
Antrean panjang di SPBU Kampal bukan semata akibat tingginya kebutuhan masyarakat.
Ada indikasi antrean sengaja direkayasa untuk membuka putaran pengisian berulang.

Fakta dan Tanggung Jawab SPBU
Keterangan sumber internal menjadi salah satu petunjuk utama dalam penelusuran ini.
Menurut dia, kendaraan tertentu masuk antrean secara berulang setiap kali pasokan Solar tiba.
Sejumlah nama atau inisial muncul dalam informasi lapangan.
Haji DP diduga memasukkan sedikitnya delapan armada.
EN dan RN masing-masing mengoperasikan tiga truk bak pendek.
Haji IWN turut dikaitkan dengan satu hingga dua kendaraan dalam barisan.
Salah satu armada EN bahkan memiliki keterkaitan dengan oknum pengelola SPBU, berdasarkan keterangan sumber.

Menurut sumber, kendaraan mengisi Solar subsidi, memindahkannya ke penampungan atau jeriken di luar SPBU, kemudian kembali masuk antrean.
“Setelah Solar dipindahkan, kendaraan kembali mengantre,” ujar sumber tersebut.
Penelusuran juga menemukan informasi mengenai aliran Solar menuju kawasan pertambangan Kayuboko, sekitar lima kilometer dari SPBU Kampal.
TERKAIT LAINNYA:
Orang Dalam dan “Mafia” Solar SPBU Kampal
Jalur Gelap Solar Subsidi
Bocor Solar dari SPBU Kampal Lebih 60 Persen
Truk Pengelola SPBU Ikut Antrean Solar?
Bocor Kuota Solar di Jalan Trans Kampal
Membidik Mafia Solar Subsidi
Di area pertambangan Desa Kayuboko, harga solar subsidi diselewengkan membengkak menjadi Rp480.000 hingga Rp550.000 per jeriken/galon kapasitas 33 liter.
Jika para mafia solar subsidi mengantarkan solar-solar tersebut hingga titik antar kebun kelapa atau biasa disebut “kelapa-kelapa” (tepat di jalan masuk tambang Kayuboko) maka para mafia bisa dapat harga Rp550.000.
Hilir-mudik kendaraan pengangkut solar subsidi ke area tambang nampak bebas dan mencolok mata.
Namun, seolah menutup mata, aparat penegak hukum tidak melakukan tindakan apapun.

Manajer Belum Menjawab
KoranIndigo.com telah meminta tanggapan Manajer SPBU 74.943.08, Aswat, pada Rabu, 7 Oktober 2026 melalui WhatsApp.
Pertanyaan mencakup antrean fiktif, pengisian berulang, penggunaan wadah atau tangki modifikasi, serta mekanisme pengawasan distribusi Solar subsidi.
Hingga berita ini disusun, Aswat belum memberikan tanggapan.
Padahal, sebagai pengelola operasional, manajer SPBU memiliki posisi penting dalam memastikan pelayanan, pengaturan antrean, pengawasan transaksi, serta pencegahan penyalahgunaan.
Sebab persoalan di Kampal bukan semata panjangnya barisan kendaraan.
Kuat dugaan, adanya antrean siluman solar subsidi sepengetahuan dari pengelola SPBU Kampal, termasuk Aswat selaku manajer baru.
Jika kendaraan tertentu memang dapat keluar-masuk antrean dan mengisi berulang, terdapat celah dalam sistem pengawasan perlu dijelaskan.
Jika Solar subsidi kemudian mengalir ke luar konsumen sasaran, persoalannya bergeser dari antrean menjadi potensi kebocoran distribusi. IND
FOKUS MINGGU INI:
Antrean Masih Ada, Mafia Solar Tetap Berkuasa
Gurita Fulus Atensi Mafia Solar Subsidi









