Tersiar kabar tidak sedap dari para penangkar Wilayah Selatan Kabupaten Parigi Moutong (Parimo). Para petani pembiakan benih digunakan menghasilkan tanaman varietas unggul itu menjerit. Dugaan praktik monopoli, pengarahan dan gelembung harga (mark-up) pada hilir-mudik bibit di seputaran Kecamatan Torue pun menyeruak tajam.
Sinyalemen praktik dominasi dan monopoli pasar bibit-bibit benih unggul dilakukan salah satu oknum penangkar bernama Putu Pancayasa beserta antek-anteknya (CS).
Dalam persoalan benih unggul di Wilayah Selatan Parimo saat ini, hanya ada satu “pemain”, tanpa pesaing lain.
Dan, oknum Putu Pancayasa bersama kaki-tangannya pun berlaku menjadi suplayer tunggal.
PILIHAN EDITOR:
Siapa Bakal Tersangka Korupsi Proyek Jalan
Piawai Sang oknum dalam lakukan monopoli, ditengarai dikarenakan kekuatan bini Putu Pancayasa yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN), punya jabatan cukup strategis di Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), bernama Kadek Widiani.
Dari Kadek Widiani inilah, diduga terjadi pengarahan, penggiringan dan dominasi alur benih atau bibit-bibit pada Wilayah Selatan terkumpul di satu titik, menyingkirkan petani-petani penangkar lokal lainnya.
Pengadaan benih atau bibit diduga didominasi oleh Putu Pancayasa CS berkat “kekuatan” Kadek Widiani selaku pegawai penting, disebut terdiri dari pengadaan benih bersifat swakelola, aspirasi hingga kontraktual.
“Pokoknya ada pengadaan yang swakelola serta bersifat aspirasi. Jika ada yang bersifat kontraktual atau tender, semua diarahkan (oleh Kadek Widiani) kepada suaminya, yaitu Putu Pancayasa”, bebernya.
BERITA LAINNYA:
Selain Jaksa, Dugaan Korupsi Proyek Jalan PUPRP Parimo Pernah Ditangani Polisi
Kejati Sulteng Didesak Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Proyek Jalan
Menanti Gebrakan Kajati Baru
Para petani penangkar lokal menyatakan, saat ini Putu Pancayasa akan menghelat pengadaan benih sejumlah kurang lebih 60 ribu bibit.
“Sebelumnya sekitar 50 ribu bibit, dan akan ada pengadaan masuk lagi sejumlah 60 ribu bibit. Makanya mereka (Putu Pancayasa CS) membeli bibit dengan harga Rp10 ribu per tangkai, padahal biasanya kami menjual bibit-bibit itu dengan harga Rp25 ribu per pohonnya”, kata para petani.
Bibit-bibit varietas unggul itu terdiri dari bibit durian, alpokat dan kakao.
“Kasihan kami para petani, khususnya penangkar benih di Kecamatan Torue, Wilayah Desa Tolai dan sekitarnya. Saat ini, harga benih (bibit) mereka beli dengan harga sangat rendah yaitu Rp10 ribu per benih unggul”, kata beberapa petani, kepada koranindigo.com, Sabtu, (23/8).
Para petani menyebut, adanya tengara dominasi dan dengan harga jual benih unggul saat ini (Rp10 ribu), untuk membiayai ongkos buruh proses pembenihan saja sangat jauh dari cukup.
“Awalnya mereka (Putu Pancayasa CS) membeli benih dengan harga Rp15 ribu, namun saat ini turun menjadi Rp10 ribu per bibit. Sulit sekali kami dibuatnya. Ongkos untuk buruh saja tidak kembali. Namun, mau tak mau kami menjual dengan harga itu”, katanya.
Akibat dugaan praktik monopoli dilakukan laki-bini bersama kaki-tangannya itu, para petani penangkar benih lokal mengeluhkan tidak mampu lagi melakukan pembayaran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bantuan permodalan dari pemerintah.
“Sungguh kami para petani penangkar kecil sangat kesulitan saat ini. Hingga KUR pun tak bisa lagi kami bayar pak. Karena rata-rata dari kami ini hanya berharap pada bibit-bibit itu”, ungkapnya.
BACA JUGA:
Tak Terjamah, Rasuah di Pelupuk Mata
Dugaan Rasuah Proyek Jalan, Digdaya Pejabat-Rekanan
Ikhwal Puluhan Pejabat Dinas PUPRP Parimo Diperiksa Jaksa
Padahal, kata para petani penangkar, mereka mengetahui bahwa harga beli tertera dalam dokumen perencanaan keuangan estimasi biaya atau Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang ada ditangan oknum Putu Pancayasa CS adalah seharga Rp75 ribu per bibit varietas.
Kami para petani penangkar benih lokal sungguh resah, namun petani kecil seperti kami ini tidak punya banyak pilihan.
Kepada media ini, para petani menyebut, bahwa untuk pembuatan label bibit harus melalui Kadek Widiani.
Begitu pula dengan pembuatan izin penangkaran benih.
Para petani penangkar lokal menyebut untuk pembuatan label, mereka dibandrol dengan harga Rp2 ribu per label.
Sedangkan bagi pembuatan izin penangkaran benih para petani membayar Rp6 juta kepada Kadek Widiani.
“Pembuatan label melalui Ibu Kadek Widiani. Biasanya Rp700, namun Ibu Kadek patok Rp2 ribu per label. Pembuatan izin penangkar benih melalui Ibu Kadek Widiani adalah Rp6 juta”, sebut para petani.
Malapetaka Mulai Menyapa
KADEK Sudar, salah satu pemilik penangkar benih besar dan bermukim di Wilayah Selatan Parimo menyatakan bahwa saat ini usahanya mengalami penurunan omzet secara drastis akibat adanya dugaan praktik dominasi pasar itu.
Ribuan benih-benih bermutu dengan kategori varietas unggul pihaknya tangkar seakan tidak bergerak, sebab disinyir ada “pemain” tunggal tanpa pesaing yang melakukan dominasi dan monopoli pasar bibit-bibit benih secara tidak sehat.
“Jangankan berkurang benih-benih saya pak. Bergerak saja tidak. Ada ratusan ribu benih-benih kami terbengkalai dan berpotensi membuat kami merugi”, katanya.
Kadek mengatakan, selama ini sebenarnya kondisi pasar bibit bagi usaha penangkaran benih varietas tanaman di Wilayah Selatan Parimo baik-baik saja.
Namun, “malapetaka” mulai menyapa para petani penangkar benih lokal, ketika setahun ini diduga ada pihak melakukan praktik persaingan kurang sehat, menerapkan dominasi serta monopoli pasar benih Wilayah Selatan.
Sementara itu, Putu Pancayasa diduga pihak lakukan dominasi dan monopoli pasar benih Wilayah Selatan enggan memberikan tanggapan terkait tudingan mengarah kepada dirinya.
Berkali koranindigo.com melakukan konfirmasi ke ponsel pintarnya, namun masih tidak berbalas.
Dikonfirmasi, Kadek Widiani nampak irit bahasa, dan hanya sedikit melontar kata.
Kadek Widiani mengatakan bahwa dirinya tidak ingin menanggapi terkait isu mengarah kepadanya.
“Terima Kasih informasinya pak. Kalau saya pribadi tidak ada yang ingin saya tanggapi”, singkatnya. (ind)
BACA JUGA:
Potensi Curang Lelang Parimo (bag.1)
Potensi Curang Lelang Parimo (bag. II)










