“Kami para penangkar Wilayah Selatan ada ratusan jumlahnya. Kami pernah dikumpul di penginapan Cristy, Desa Tolai, Kecamatan Torue oleh Ibu Kadek Widiani, dan diarahkan memilih salah satu paslon. Pokoknya bukan paslon Anwar Hafid-Renny Lamadjido”
PARIGI | KORANINDIGO – Para petani penangkar benih Wilayah Selatan Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) menyatakan mendapatkan intimidasi dari oknum suami pejabat bernama Putu Pancayasa beserta antek-anteknya (CS).
Intimidasi diduga disebabkan pernyataan para petani penangkar soal dugaan praktik dominasi, monopoli pasar dan mark-up di media.
BERITA TERKAIT:
Siapa Bakal Tersangka Korupsi Proyek Jalan
“Setelah ada pemberitaan soal dugaan praktik monopoli benih, kami para penangkar di sekitar Wilayah Kecamatan Torue, mendapatkan intimidasi dan ancaman dari pihak Pak Putu Pancayasa CS”, kata Gede, Senin, (25/8).
Bahkan, kata Gede, orang-orang itu (Kadek Widiani dan Putu Pancayasa CS) sesumbar dan menantang wartawan yang mau memberitakan soal praktik dugaan monopoli dan mark-up benih mereka lakukan.
“Pihak Putu Pancayasa menantang wartawan-wartawan yang memberitakan tentang dia dan istrinya (Kadek Widiani). Pak Putu silahkan beritakan lebih heboh lagi”, kata Gede, melalui pesan singkat.
PILIHAN EDITOR:
Siapa Bakal Tersangka Korupsi Proyek Jalan
“Mereka (Putu Pancayasa CS) akan mencium pantat wartawan-wartawan jika sampai praktiknya terusik dan jabatan istrinya (Kadek Widiani) terganggu karena pemberitaan”, katanya lagi.
Kadek Widiani, kata para petani penangkar benih, mendapatkan perlindungan dari salah satu pejabat penting di lingkup Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).
Lebih jauh, para petani penangkar membeber bahwa ratusan penangkar pernah dikumpulkan oleh Kadek Widiani di sebuah penginapan dan mengarahkan petani penangkar untuk memilih salah satu paslon pada Pilgub 2024 lalu.
BERITA LAINNYA:
Selain Jaksa, Dugaan Korupsi Proyek Jalan PUPRP Parimo Pernah Ditangani Polisi
Kejati Sulteng Didesak Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Proyek Jalan
Menanti Gebrakan Kajati Baru
“Kami para penangkar Wilayah Selatan ada ratusan jumlahnya. Kami pernah dikumpul di penginapan Cristy, Desa Tolai, Kecamatan Torue oleh Ibu Kadek Widiani, dan diarahkan memilih salah satu paslon. Pokoknya bukan paslon Anwar Hafid-Renny Lamadjido”, beber para petani penangkar.
Atas intimidasi dan ancaman yang ada, para petani penangkar berharap Gubernur Sulteng, Anwar Hafid dapat mendengar jeritan mereka, dan sekaligus memberikan perlindungan para petani penangkar benih di wilayah Selatan Parimo.
“Kami harap pak Gubernur Sulteng Anwar Hafid dapat mendengar keluh-kesah kami para petani penangkar benih, dan memberikan kami perlindungan”, kata para petani penangkar.
Sebelumnya, media ini melansir soal kabar tidak sedap dari para penangkar Wilayah Selatan Parimo. Para petani pembiakan benih penghasil tanaman varietas unggul menjerit, terkait dugaan praktik monopoli, pengarahan dan gelembung harga (mark-up) pada hilir-mudik bibit di seputaran Kecamatan Torue.
Sinyalemen praktik dominasi dan monopoli pasar bibit-bibit benih unggul dilakukan salah satu oknum penangkar bernama Putu Pancayasa beserta antek-anteknya (CS).
Dalam persoalan benih unggul di Wilayah Selatan Parimo saat ini, hanya ada satu “pemain”, tanpa pesaing lain.
Dan, oknum Putu Pancayasa bersama kaki-tangannya pun berlaku menjadi suplayer tunggal.
BACA JUGA:
Tak Terjamah, Rasuah di Pelupuk Mata
Dugaan Rasuah Proyek Jalan, Digdaya Pejabat-Rekanan
Ikhwal Puluhan Pejabat Dinas PUPRP Parimo Diperiksa Jaksa
Piawai Sang oknum dalam lakukan monopoli, ditengarai dikarenakan kekuatan bini Putu Pancayasa yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN), punya jabatan cukup strategis di Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), bernama Kadek Widiani.
Dari Kadek Widiani inilah, diduga terjadi pengarahan, penggiringan dan dominasi alur benih atau bibit-bibit pada Wilayah Selatan terkumpul di satu titik, menyingkirkan petani-petani penangkar lokal lainnya.
Pengadaan benih atau bibit diduga didominasi oleh Putu Pancayasa CS berkat “kekuatan” Kadek Widiani selaku pegawai penting, disebut terdiri dari pengadaan benih bersifat swakelola, aspirasi hingga kontraktual.
Para petani penangkar lokal menyatakan, saat ini Putu Pancayasa akan menghelat pengadaan benih sejumlah kurang lebih 60 ribu bibit.
Bibit-bibit varietas unggul itu terdiri dari bibit durian, alpokat dan kakao.
BACA JUGA:
Potensi Curang Lelang Parimo (bag.1)
Potensi Curang Lelang Parimo (bag. II)
“Kasihan kami para petani, khususnya penangkar benih di Kecamatan Torue, Wilayah Desa Tolai dan sekitarnya. Saat ini, harga benih (bibit) mereka beli dengan harga sangat rendah yaitu Rp10 ribu per benih unggul”, kata beberapa petani, kepada koranindigo.com, Sabtu, (23/8).
Para petani menyebut, adanya tengara dominasi dan dengan harga jual benih unggul saat ini (Rp10 ribu), untuk membiayai ongkos buruh proses pembenihan saja sangat jauh dari cukup.
Akibat dugaan praktik monopoli dilakukan laki-bini bersama kaki-tangannya itu, para petani penangkar benih lokal mengeluhkan tidak mampu lagi melakukan pembayaran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bantuan permodalan dari pemerintah.
“Sungguh kami para petani penangkar kecil sangat kesulitan saat ini. Hingga KUR pun tak bisa lagi kami bayar pak. Karena rata-rata dari kami ini hanya berharap pada bibit-bibit itu”, ungkapnya.
Kadek Sudar, salah satu pemilik penangkar benih besar dan bermukim di Wilayah Selatan Parimo menyatakan bahwa saat ini usahanya mengalami penurunan omzet secara drastis akibat adanya dugaan praktik dominasi pasar itu.
Ribuan benih-benih bermutu dengan kategori varietas unggul pihaknya tangkar seakan tidak bergerak, sebab disinyir ada “pemain” tunggal tanpa pesaing yang melakukan dominasi dan monopoli pasar bibit-bibit benih secara tidak sehat.
“Jangankan berkurang benih-benih saya pak. Bergerak saja tidak. Ada ratusan ribu benih-benih kami terbengkalai dan berpotensi membuat kami merugi”, katanya. (IND)










